google.com, pub-9195145159063134, DIRECT, f08c47fec0942fa0 LaguLoeLagueM

LaguloeLagueM

     

SAPARDI DJOKO DAMONO - MARSINAH Melawan Lupa "Puisi | LAGULOELAGUE Puisi

Namecheap.com
Dari Sapardi Djoko Damono puisi untuk MARSINAH

Cari puisi lainya di LAGULOELAGUE - Puisi

Berikut  Puisi MARSINAH Oleh Sapardi Djoko Damono;



"Marsinah" - Puisi
Oleh : SAPARDI DJOKO DAMONO

Marsinah buruh pabrik arloji mengurus presisi
Merakit jarum, sekrup, dan roda gigi,
Waktu memang tak pernah kompromi,
Ia sangat cermat dan pasti.

Marsinah itu arloji sejati, tak lelah berdetak
Memintal kefanaan yang abadi,

“kami ini tak banyak kehendak,
sekedar hidup layak, sebutir nasi"



Marsinah, kita tahu, tak bersenjata,
Ia hanya suka merebus kata sampai mendidih,

lalu meluap ke mana-mana.
“Ia suka berpikir,”
kata Siapa,
“itu sangat berbahaya.”
Marsinah tak ingin menyulut api,
Ia hanya memutar jarum arloji agar sesuai dengan matahari.
“Ia tahu hakikat waktu,”
 kata Siapa,
“dan harus dikembalikan ke asalnya, debu.”


Di hari baik bulan baik,
Marsinah dijemput di rumah tumpangan
Untuk suatu perhelatan.
Ia diantar ke rumah Siapa, ia disekap di ruang pengap,
Ia diikat ke kursi,
Mereka kira waktu bisa disumpal agar lenkingan detiknya tidak kedengaran lagi.

Ia tidak diberi air, Ia tidak diberi nasi,
Detik pun gerah berloncatan ke sana ke mari.

Dalam perhelatan itu, kepalanya ditetak,
Selangkangnya diacak-acak,
Dan tubuhnya dibirulebamkan dengan besi batangan.

Detik pun tergeletak
Marsinah pun abadi.


Di hari baik bulan baik, tangis tak pantas.
Angin dan debu jalan, klakson dan asap knalpot,
Mengiringkan jenazahnya ke Nganjuk.
Semak-semak yang tak terurus dan tak pernah ambil peduli,
Meregang waktu bersaksi:

Marsinah diseret dan dicampakkan, sempurna, sendiri.

Pangeran, apakah sebenarnya inti kekejaman?

Apakah sebenarnya sumber keserakahan?

Apakah sebenarnya azas kekuasaan?

Dan apakah sebenarnya hakikat kemanusiaan, Pangeran?

Apakah ini?

Apakah itu?

Duh Gusti, apakah pula makna pertanyaan?


“Saya ini Marsinah, buruh pabrik arloji.
Ini sorga, bukan?

Jangan saya diusir ke dunia lagi
jangan saya dikirim ke neraka itu lagi.” (Malaikat tak suka banyak berkata,
ia sudah paham maksudnya.)


 “apa sebaiknya menggelinding saja bagai bola sodok, bagai roda pedati?"


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "SAPARDI DJOKO DAMONO - MARSINAH Melawan Lupa "Puisi | LAGULOELAGUE Puisi"

Post a Comment